Jakarta, CNN Indonesia
--
Diskusi kerap dilakukan saat dua atau lebih individu
ingin menimbulkan rasa pemahaman yang sama atas suatu hal. Umumnya,
diskusi dilakukan oleh para orang dewasa. Namun ternyata, anak-anak pun
membutuhkan diskusi.
"Orang tua biasanya bermasalah dengan anak
ketika anak mulai berkembang untuk menjadi dirinya sendiri. Biasanya,
anak yang mulai bisa ngomong, mulai bisa mengurus dirinya sendiri
berarti mulai banyak keinginan. Itu terjadi di umur dua-tiga tahun,"
ujar Psikolog Roslina Verauli saat ditemui di acara Bebelac Grow Them
Great di Restoran Kembang Goela, Jakarta, baru-baru ini.
Karenanya, untuk mengatasi kondisi tersebut, Vera menilai, anak-anak
juga membutuhkan diskusi. Tentu saja, untuk membuka diskusi dengan anak,
orang tua harus mengetahui cara memulainya.
Tetapi, perlu
diingat bahwa diskusi harus mengikuti usia anak. Misalnya, saat anak
masih kecil, bentuk diskusi yang dilakukan bukan dengan cara yang
serius. Namun diskusi dilakukan di sela-sela kegiatan seperti bermain.
"Bisa sambil main boneka, main kura-kura. Itu efektif untuk anak usia pra-sekolah," katanya.
Begitupun
dengan anak pada jenjang sekolah dasar (SD). Orangtua dapat melakukan
diskusi dengan berlaku sebagai teman pada anaknya.
Vera menjabarkan, pertama orang tua harus membiarkan anaknya bercerita.
Saat itu, mereka harus menganggap ungkapan-ungkapan atas ekspresi si
anak sebagai pertanyaan anak untuk memperdalam dirinya.
Dari
sana, ibu atau ayah kemudian dapat memberikan contoh sikap yang dapat
diambil oleh anak. Salah satunya dengan menceritakan pengalaman yang
sama saat orang tua masih duduk di bangku sekolah.
No comments:
Post a Comment